“Maaf” Kata Sederhana Yang Sulit Terucap

Setiap insan pasti pernah berbuat kesalahan. Kadang sebagai manusia yang setiap hari bersosialisasi dengan orang lain, secara sengaja atau tidak juga sering menyakiti hatinya. Hidup kita tak luput dari kesalahan, khilaf dan dosa. Namun sebagai mahluk kita juga wajib untuk saling memaafkan. Karena Allah SWT adalah Dzat yang Maha Pangampun apabila kita bertaubat dan menyesali kesalahan dan khilaf kita.

Kadang hidup kita juga jauh dari kata maaf. Padahal dalam kehidupan sehari – hari sering timbul masalah, selisih pendapat sehingga terjadi kesalahpahaman dengan orang lain. Akan tetapi kita enggan untuk meminta maaf atau memaafkan. Salah satunya disebabkan oleh gengsi / prestise, merasa diri paling benar.

Maaf menjadi sangat berharga

Sebuah kisah betapa kata maaf menjadi sangat berharga: Sepasang suami istri, seperti pasangan lain di kota – kota besar, meninggalkan anaknya diasuh pembantu rumah tangga sewaktu mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, gadis kecil berusia 3 tahun bernama Dita. Dirumah, gadis kecil ini hanya ditemani pembantu. Seringkali jika sang pembantu sibuk di dapur, anak ini dibiarkan bermain sendirian.

Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Ia kemudian berkreasi dengan paku berkarat itu. Ia mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkir, tapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan – coretan itu tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya.. karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Bisa ditebak, anak itupun semakin semangat membuat coretan sesuai dengan kreatifitasnya. Dengan sekejap mobil baru ayahnyapun sudah penuh dengan coretan.

Ketika Ayah dan ibunya pulang dari bekerja, maka terkujutlah karena mobil yang baru dibelinya sudah penuh dengan coretan karena ulah anaknya. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting didepan rumahnya. Lalu dipukulkan berkali-kali ke telapak tangan anaknya. sampai terluka parah dan berdarah. Ibunya pun terdiam seolah mendukung hukuman yang diberikan oleh sang ayah.

Keesokan harinya, kedua belah tangannya bengkak. pembantu rumah tangga yang mengasuh anaknya pun mengadu ke majikannya. “oleskan obat saja!” jawab bapak si anak acuh tak acuh, dan membiarkan anaknya tidur dikamar pembantunya. Keesokan harinya badan anaknya pun demam. Meski telah diberi obat turun panas suhu badan Dita tak kunjung turun. “Sore nanti kita bawa ke klinik.” kata majikannya.

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik, dokter menganjurkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah sangat serius. “Tidak ada pilihan lain lagi.” kata dokter. “Kedua tangan anak anda harus dipotong karena lukanya sudah terlalu parah.”

“Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku kebawah,” kata dokter.

Operasipun dijalankan. Beberapa saat setelah operasi selesai dan efek obat biusnya hilang, si anak menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut perban putih. “Ayah.. Ibu.. Dita nggak akan melakukannya lagi… Dita nggak mau lagi ayah pukul, Dita nggak mau jahat lagi. Dita sayang ayah, sayang ibu…” katanya berulang kali.

“Ayah tangan Dita mana? kembalikan tangan Dita, ayah… Untuk apa diambil? Dita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana kalau Dita mau makan nanti? Bagaimana Dita mau bermain? Dita janji nggak akan mencoret-coret mobil ayah lagi, kembalikan tangan Dita ayah!” katanyan berulang-ulang sambil menangis menahan sakit.

Serasa copot jantung jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Apalah daya, tiada manusia dapat menahan takdir yang sudah terjadi. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski ia sudah minta maaf.

Semoga kisah ini dapat menjadi cermin bagi kita. Betapa penting arti kata maaf. Dan menjadi manusia yang senantiasa instrospeksi diri pada setiap tindakan, dan sikap kita pada orang lain.

Ditulis oleh: Ardiawati

Tentang ardiawati170483

Saya seorang ibu rumah tangga biasa, yang biasa menghabiskan waktu bersama anak, suami dan orang - orang di lingkungan sekitar. Dalam Blog ini saya ingin mencoba berbagi pengalaman yang saya temui dalam kehidupan sehari - hari. Dan informasi yang semoga bermanfaat setelah membaca artikel saya.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di sosial. Tandai permalink.

10 Balasan ke “Maaf” Kata Sederhana Yang Sulit Terucap

  1. marsudiyanto berkata:

    Weleh2…
    Makasih sudah datang di blog saya…
    Sekarang dimana Mbak?

  2. Bung Iwan berkata:

    mirip dng cerita yg pernah dikirim ke saya lewat milis. tapi settingnya amerika.
    tetap berkarya yeaahhh….

  3. fikri berkata:

    oke banget bisa dong kita di ajarin caranya

  4. alamendah berkata:

    Sungguh tragis. Tapi memang sering kali kata maaf terkalahkan oleh ego.

  5. aura pelupa berkata:

    “Meminta maaf dan memberi maaf” adalah obat sakit hati yang mujarab!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s